Kamis, 11 Oktober 2012

CERPEN 1

My Facebook
My Twitter
CINTA YANG SINGKAT

            Nama ku Aini, kata orang ku anak yang manis, baik, namun sayang super pendiam tak banyak bicara. Walaupun begitu aku tetap punya banyak teman. Setiap apa yang ku mau pasti ku dapatkan dengan sukses, misal dalam pelajaran ku selalu mendapat juara kelas. Namun tidak dalam hal cinta. Dalam hal yang satu ini ku selalu gagal untuk meraihnya.
             Saat itu usia ku baru 15 tahun dan anak baru di smk ternama di kota tempat ku tinggal. Seperti biasa setiap tahun pelajaran baru pasti diadakan MOS ( Masa Orientasi Siswa ). Dalam MOS kita diajarkan hal-hal baru oleh senior. Namun dalam menjalan MOS itu ada satu senior yang paling aku benci namnya Arif. Karena super bencinya setiap apapun yang dia katakan selalu tidak ku hiraukan. Dia selalu saja mengecengi kelompok MOS ku. Dia selalu membuat ku kesal dan sakit hati. Dan pada acara terakhir MOS setiap anak baru dan senior saling berjabat tangan untuk saling meminta  maaf atas apa yang telah senior lakukan selama MOS serta untuk membentangkan tangan mengucapkan selamat datang pada anak baru.
            Ku berpikir mungkin setelah MOS selesai Arif tidak akan mengganggu ku, ternyata ku salah besar. Dia tak henti-hentinya membuat ku jengkel atas tingkah dan ucapannya yang dia tujukan padaku. Dia selalu mengatakan aku ini cupu lah itulah inilah dan sebagainya. Hingga suatu hari ku berpikir ku ingin menantangnya dalam uji kompetensi.
            Bel pulang sekolah pun berbunyi, ku langsung menuju parkiran untuk mengambil motor. Hal tak terduga pun datang, ternyata ban moltor ku kempes dua-duanya. Padahal tadi pagi sewaktu ku bawa masih normal. Dan ku mendengar suara tawa yang keras di balik tembok dan benar saja Arif muncul dengan tawanya. Dalam hati ku berkata pasti dia yang ngerjain aku. Ingin rasanya ku ku memukul memaki dia pi ku urngkan niat ku itu. Buat apa ku mengotori tangan dan mulut ku ini untuk orang seperti dia. Tanpa basa-basi ku langsung meninggal kan Arif yang masih tertawa dengan lantangnya.
            Ku pun pulang dengan hati kesal ngapain si dia selalu ngerjain dan ganggu aku padahal kan aku ga punya masalah atau pun salah sama dia. Ku berhenti sejenak seperti ada yang mengikuti aku dari belakang. Dan saat ku tengok ke belakang ternyata  benar saja, dia lagi dia lagi pikir ku. Apa si maunya, gerutuku dalam hati. Ku pun langsung pergi tanpa berkata apa pun.
            Entah ada angin apa Arif tiba-tiba ada di depan kelas ku. Dalam hati ingin rasanya ku pergi tapi mau gimana lagi bentar lagi kan bel masuk. Ku langkah kan kaki dengan biasa seperti tidak ada dia di hadap ku. Tapi lagi-lagi dia bertingkah, ketika ku mau masuk kelas dia selalu menghalangi ku. Hinga akhirnya kita saling dorong-mendorong sampai bel masuk. Untung saja pelajaran pertama gurunya lagi berhalangan ini kesempatan ku untuk ke kantin membeli minum untuk menghilangkan rasa capai dan haus gara-gara Arif.
            Seperti dunia ini sempit bagi ku karena dimana ada aku pasti selalu ada Arif. Dia lagi dia lagi, kenapa sich selalu dia yang ketemu ma aku emang ga ada yang lain apa selain dia. Aku pun enggan masuk ke dalam kantin karena Arif, akhirnya aku duduk di depan kantin sambil istirahat. Tiba-tiba Arif datang menghampiriku dengan membawa segelas jus. Dia menyodorkannya padaku. Tanpa pakai lama langsung saja ku terima jus pemberian darinya. Dia pun duduk di samping ku. Kami pun hanya saling diam tak berkata sepatah pun. Rasanya bosen banget duduk samping dia, kalau bukan karna haus aku tak mau bersebelahan dengan orang serese Arif.
            Namun ada sesuatu yang aneh pada ku saat itu, tiba-tiba hati dag dig du dag dig dug ga karuan. Ada apa dengan ku, apa jangan-jangan ku mulai ada rasa ma orng yang resenya minta ampun. Oh tidak,,,ini ga boleh terjadi, mana mungkin sich ku suka ma orang kaya dia pikir ku. Langsung ku tarik napas panjang dan mengeluarkan secara perlahan untuk menenangkan hati ini. Aku tak salah dengar tiba-tiba Arif membuka pembicaran dengan ucapan minta maaf padaku. Aku pun terbengong mendengar ucapannya. Mana mungkin orang serese dia bisa bilang minta maaf, atau pun dia ada rencana lain untuk ngerjain aku lagi. Tepukan tangan pun mengguyarkan lamunan ku. Kilat saja aku langsung meninggalkan Arif tanpa mengucap apapun. Arif pun dengan sigap langsung mengejarku dan meraih tangan ku hingga wajah ku berada tepat di depan wajahnya. Kontan saja ku langsung mendorongnya agar dia melepaskan tanganku. Tapi apa daya genggamannya lebih kuat, aku pun hanya bisa pasrah.
“Ai, ayo donk ucapin sesuatu, jangan bikin aku ngrasa bersalah kaya gini?”, pintanya padaku.
“Makasih.”, reflex keluar dari mulutku.
“Kok cumaa maksih Ai, makasih buat apa Ai?”, tanyanya dengan heran.
“Iya makasih buat jusnya, emang buat apa lagi.”, jawab ku dengan ketus sambil meminta dia melepaskan tangan ku.
“Bukan itu Ai maksud ku, apa kamu mau memaaf kan aku Ai?”, pintanya dengan memelas,
“Bodo!”,jawabku dengan singkat sambil pergi berlalu ningggalin Arif.
Arif pun meminta maaf sambil berteriak-teriak namun ku tak peduli. Dalam hati ku tak semudah itu ku bisa memaafkan mu setelah apa yang telah kau perbuat padaku. Mungkin aku adalah orang jahat yang ga mau memaafkan kesalahan oarng lain, tapi ku terlanjur sakit hati ma Arif. Sampai pulang sekolah pun dia tak henti-hentinya meminta maaf padaku. Ku merasa risih dengan sikapnya hingga ku tak pedulikan ucapannya.
            Hari ini ku merasa ga enak badan ku putus kan untuk tidak berangkat ke sekolah. Mungkin karena ku kecapean dan banyak pikirang hingga tak mengontrol kesehatanku. Badan sangat panas kebetulan orang rumah sedang pergi semua. Ingin sekali ku beranjak ungdari tempat tidur untuk pergi berobat agar esok hari ku bisa bersekolah lagi seperti biasanya. Namun apa daya tubuh ku sangat lemah tak mampu ku berdiri. Dan tiba-tiba terdengar bunyi bel, ku tak sanggup membuka pintu karena mungkin tak ada orang yang membukakan langsung saja dia masuk. Sempat terdengar suara memanggil nama ku. Namun ku tak menjawab sepertinya ku tak asing dengan suara itu. Ya benar saja ternyata Arif yang datang, dan dia terkejut melihatku lemas tak berdaya. Dengan paniknya dia langsung saja menggendong ku dan membawa ke rumah sakit.
            Sejak saat itu hubungan ku ma Arif pun membaik dan ku pun telah memaafkan dia. Di sekolah kami selalu bersama kita ngobrolin hal-hal yang sekiranya ga penting. Hingga teman-teman mengira kami itu pacaran. Aku pun hanya tersenyum menanggapinya. Suatu hal yang mustahil jika Arif sampai jatuh hati padaku. Cewe yang selalu dia katakan cupu. Ngomongin soal cupu, sekarang dia tak pernah lagi memanggil ku dengan sebutan itu. Terkadang ku merasa kangen ma panggilan cupu. Seperti ada yang hilang. Namun di sisi lain ku merasa senang karena sebutan itu tak pernah terdengar lagi dari mulut Arif. Itu suatu pertanda kalau Arif itu sudah berubah bukan seperti Arif yang selalu ngerjain aku dan rese ma aku. Hemz,,,,senang rasanya bisa baikan kaya gini ma Arif.
            Tiba-tiba rasa itu datang lagi ketika Arif menggenggam tangan ku sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu pada ku. Tak disangka dia menyatakan cintanya padaku. Sikapnya selama ini ternyata hanya untuk menarik perhatianku. Dia mengatakan kata-kata yang membuat serasa terbang di langit. Ak tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku pun merasa kan hal yang sama ke Arif. Aku langsung mengiyakan pertanyaan dia tentang apakah aku mau jadi pacarnya. Sejak itu kami berdua resmi pacaran. Ga nyangka belum lama kenal aku dah jadian aja ma dia. Padahal waktu pertama kenal kan dia aku benci banget, apa ini yang dinamakan dengan cinta itu buta.
            Seminggu pertama sejak resmi pacaran kita selalu kemana-mana bersama tak terpisahkan. Pokonya dimana ada aku pasti selalu ada dia. Namun ada sesuatu yang aneh saat kami berdua makan di kantin. Sedang asyik-asyiknya ngobrol tiba-tiba mata Arif tertuju pada Eva. Eva adalah teman seangkatan ku dan kelasnya pun bersebelahan ma kelas ku. Aku segera menghilangkan negative thinking ku….ku langsung positif thinking aja. Eva yang mungkin merasa bahwa dia sedang diperhatikan maka eva pun membalas tatapan Arif. Sempat terlintas rasa ga enak hati, apa ini yang di namakan cemburu????? Kontan saja ku marah dan langsung meninggalkan Arif sendiri di kantin. Arif pun menyadari kepergian ku itu, dan dia pun langsung mengejarku. Aku yang tau sedang dikejar Arif langsung ku berlari menuju toilet. Disana pun aku menangis histeris, kenapa dia begitu????? Apa yang kurang pada ku????? Bel masuk pun berbunyi tapi ku tak menghiraukannya. Ku masih saja di dalam toilet hingga bel pulang. Saat ku buka pintu toilet ternyata Arif sudah ada didepannya yang dari tadi menunggu aku keluar. Langsung saja dengan sigap ku tutup kembali pintu itu, namun terhalang oleh dorongan Arif. Hingga akhirnya aku pun keluar dan pergi. 
            Dia mengejar ku dan terus mengejarku, dia selalu bisa meraih tangan ku saat ke berlari. Dengan kuatnya dia menggenggam tangan ku tak member ruang untuk ku melepas kan diri dari genggamannya. Dia langsung memeluk ku erat dan minta maaf atas kejadian di kantin tadi. Ku tak mampu bersuara ku hanya bisa menangis menangis dan menangis. Dia usap air mata ku dengan kedua tangannya. Dan dia pun memeluk ku lagi. Tak henti-hentinya dia minta maaf padaku dan berjanji tak kan mengulangnya lagi. Hati ku pun luluh aku pun memaafkan dia. Kami pun baikan kembali, akhirnya dia pun mengantar ku pulang.
            Tak seperti hari biasa, hari ini ku bangun kesiangan. Setibanya di sekolah ku melihat Arif sedang bicara dan bercanda dengan Eva. Padahal kan dia telah berjanji ga akan mengulangnya lagi. Tapi ternyata janji itu hanya di mulut saja. Sempat air mata ku mengalir membasahi pipi. Dan ternyata Arif melihat ku, langsung ku berlari menuju gerbang sekolah dan keluar sejauh mungkin. Ku berhenti di taman, disinilah ku curah kan semuanya. Tak hentinya ku menangis. Lagi lagi dan lagi Arif bisa menemukan ku di taman. Dari belakang dia memeluk ku ku pun langsung berontak. Namun apa daya ku slalu tak berdaya. Dia pun duduk di sebelah ku sambil tak melepas pelukannya. Karena dia tau kalau dia lepas pelukannya aku pasti beranjak lari. Aku menangis di bahunya dan bersandar. Dia mengajak ku untuk ke sekolah namun ku menolak ku meminta dia untuk mengantarku pulang karena aku ingin menenangkan diri.
            Sesampainya di rumah dia berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun ku tak mau mendengar penjelasan darinya. Dan ku suruh dia pulang dank u meminta dia untuk sementara waktu untuk tidak menemuiku dulu. Sebelumdia berkata apa-apa dengan segera mungkin ku langsung menutup pintu dan berlari ke kamar. Terlintas dalam benak ku untuk mengakhiri hubungan ini. Mungkin ini bukan cinta namun rasa kagum yang salah diartikan. Kenapa sich disaat ku benar-benar merasa cinta dan sayang pasti begini kejadiannya. Apa mungkin Arif itu bukan yang terbaik buat ku????? Lelah memikirkan itu aku pun tertidur di kamarku.
            Cepat sekali detik berganti menit. Menit berganti jam. Jam berganti hari. Malas sekali rasanya berangkat sekolah hari ini. Aku tak mau melihat kejadian itu lagi. Tapi ku mau ga mau harus ke sekolah demi masa depan kun nanti. Dengan langkah bimbang ku menuju kelas. Di atas meja ku temukan setangkai mawar merah segar seperti habis di petik dari pohonnya. Ku cium wanginya. Terasa trentram hati ini. Siapa ya pagi-pagi yang ngirim bunga buat aku????? Padahal di kelas kan ga ada seorang pun. Ku tengok kanan kiri dan melihat Arif sedang berdiri di depan kelasku. Hati ini kembali gundah. Dengan lesu ku letak kan tas di kursi. Belum sempat untuk duduk tiba-tiba tangan Arif menarik ku untuk keluar. Dia membawaku di halaman tengah sekolah. Disana dia berteriak dan mengucapkan kata-kata yang manis. Namun…..ku tak mau dikhianati lagi, ku tak mau merasakan sakit hati lagi. Ku hanya terdiam mendengar kata-kata itu. Teman-teman bersorak memandangi kami berdua. Arif menunggu jawaban ku. Aku hanya diam seribu bahasa. Namun hati ini tak rela untuk melepasnya, akhirnya ku pun kembali memaafkan Arif.
            Seminggu kejadian itu dia tak pernah lagi berbuat seperti itu. Ku tak pernah lagi merasakan sakit hati. Dia selalu membuat ku tersenyum dan setiap pagi dia selalu mengirimkan mawar untuk ku. Tak terasa hampir sebulan ku menjalin hubungan dengan Arif. Kali ini dia terasa berbeda sekali. Dia cuek ma aku. Dia tak lagi mengirim mawar untuk ku. Menurut kabar yang beredar di sekolah dia lagi PDKT ma Eva. Hati ku sakit mendengarnya. Tanpa sengaja ku berpapasan ma mereka berdua namun kali ini ku tak berlari. Namun Arif tetap meraih tangan ku. Dengan tenang ku melepasnya. Namun dia tak mau. Dia mengumbar kata manis itu lagi. Berkali-kali dia khianiti, berkali-kali pula ku memaafkannya. Tapi kali ini ku tak mau tertipu untuk yang kesekian kalinya. Ku tersenyum dan berlalu tanpa kata.
            Arif masih saja berusaha untuk mendekati ku disamping itu dia masih menjalin hubungan ma Eva. Apapun yang dia katakana slalu ku tanggapi dengan senyuman. Ya sejak itu hubungan ku ma Arif seperti hubungan tanpa status. Dibilang pacaran seperti ga pacaran karena dia masih mengejar-ngejar Eva. Dibilang ga pacaran tapi tak pernah ada kata putus yang keluar dari mulut kami berdua. Sejak itu pula kami tak pernah kemana-mana bersama lagi. Kami selalu sendiri. Setiap bertemu kami slalu menjauh. Mungkin hubungan ini tak bisa lagi untuk diperbaiki. Saat ini kami telah putus walaupun kata putus itu tak pernah di utarakan. Putus yang tersirat.
            Tak ku sangka hubungan ini terjalin sangat singkat. Namun bagimana pun dia pernah mengisi hati ku yang kosong dengan cinta dan sayang. Mungkin dia suatu hari nanti aku akan mendapatkan seseorang yang lebih baik darinya. Yang tak kan pernah membuat ku sakit hati dan kecewa. Ini untuk pelajaran dalam hidup ku. Untuk tidak tergesa-gesa dalam cinta.


            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar